"MENULISLAH YANG IKHLAS, AGAR ILMUMU TERWARIS, AGAR MATIMU TAK MEMBAWA TANGIS, AGAR MASA DEPANMU TAK MIRIS, KARENA KISAH HIDUPMU SUDAH BERJALAN MANIS" ~FROM KUPER TO SUPER~

Jadilah pribadi yang rendah hati, jangan sombong,jangan dengki karena hidup hanya sekali harus berarti

Motivasi

Kita sering dihantui rasa takut, sesungguhnya ketakutan itu yang akan menghambat diri kita untuk menjadi manusia pemberani dalam menghadapi hidup. Ingatlah ada Allah yang akan selalu memberikan pertolongan-Nya

Motivasi

Jangan sia-siakan masa mudamu, karena disitulah waktu untuk mempersiapkan masa tuamu.

Motivasi

Bekerja, berjuanglah dan berdoa sertakan jiwa Ikhlas didalamnya. Yakinlah Allah Swt akan mengabulkan permohonanmu. Dia yang akan memberikan kepantasan untukmu.

Motivasi

Syukurilah segala nikmatNya, siapa yang pandai bersyukur maka akan ditambah nikmatNya

Minggu, 30 Maret 2014

Tak Mau terjebak 2 Kali

Hari Jum'at  saya terima sebuah sms yang berminat untuk membeli rumah yang ditawarkan. Sms belum langsung  saya tanggapi, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Besok saja libur, waktu luang masih banyak, begitu kira-kira kata hati.

Hari Minggu pagi langsung hubungi nomor yang masuk di hape, isinya kurang lebih saya diharapkan menghubungi nomor suaminya. Karena tertera nama Haji, maka saya buka dengan assalamu'alaikum.

"Assalamu'alaikum, Pak H.Anto, maaf saya hubungi Bapak, karena ada sms masuk ke hape"
"Oh, iya bu anak saya sudah survey ke rumah yang ditawarkan, mau buka harga berapa?" jawab H.Anto
"Itu rumah bos saya, sebaiknya Bapak hubungi saja dengan agen yang telah dipasang dipagar rumah!".
"Saya ingin langsung saja dengan ibu"

Singkat cerita tawar menawar berlangsung. "Kalau bapak serius silakan hari Senin atau Selasa datang kekantor, nanti deal harga dengan bos saya langsung."
"Saya pengusaha tambang batubara di Kalimantan, tidak banyak waktu, nanti saya akan ke Jakata. Tapi untuk mengikat bahwa serius, saya akan bayar DP (tanda jadi), berapa yang harus dikirimkan?"
Dalam hati saya, oh ini orang serius.


"Kalau sudah kirim DP, dan transaksi batal uang Bapak hangus, bagaimana?''
"Ya nggak masalah, serius dengan rumah itu, anak saya sudah cocok, kalau sampai batal, yaa itu untuk ibu" jawabnya.
"Saya tidak berani Pak, nanti saya infokan dulu kepada bos saya"

******

Segera saya infokan kepada bos A. Pesan bos, hati-hati  jangan sampai memberikan nomor rekening pribadi, atas nama perusahaan saja.

Saya hubungi kembali Haji Anto.
"Maaf Pak, saya harus infokan nomor rekening perusahaan"
Dia bersikukuh untuk minta nomor rekening pribadi. Saya hubungi bos B yang satu lagi, karena atas nama dua pemilik.
"Bagaimana ini Pak,dia tetap tidak mau rekening perusahaan, maunya atasnama pribadi".
"Ya sudah, apa rekening saya saja diberikan?" jawab bos B.
"Baiklah saya tunggu nomor rekening Bapak B, tolong dibbm".

Namun sudah menunggu 10 menit Bos B belum masuk no rekeningnya.
 "Pak, ditunggu nomor rekeningnya!"
"Saya sedang diluar, tolong pakai nomormu saja"
"Baik Pak, bila sudah masuk, Senin saya transfer ke Perusahaan"

Akhirnya saya kirim nomor rekening atas nama saya lewat sms. Singkat cerita, sore hari H.Anto menghubungi dan menginfokan sudah transfer Rp. 20.000.000,- . Saya diminta untuk telephone dia bila dana sudah masuk.
Sekitar 15 menit saya hubungi H.Anto bahwa dananya belum masuk.
"Masih di ATM?"
"Nggak Pak, saya cek pakai mobile banking, tanpa cek di ATM-pun bisa ketahuan, Pak".
Disini saya sudah mulai curiga, karenanya harus hati-hati menghadapinya. Dia tetap memaksa saya untuk ke ATM. Saya balas bahwa mobile banking juga langsung online, kalau tak percaya nanti saya cek ATM. Karena hujan maka saya infokan besok cek ke ATM-nya.

Keesokan paginya sampai kantor cek ATM lagi, hape saya sengaja tinggal. Balik kantor, saya hubungi H.Anto bahwa tidak ada dana masuk.
"Coba ibu cek lagi"
"Berapa kali saya harus bolak balik ke ATM!, cukup saya telephone dari sini ke Banknya!, cek saja saldo Bapak berkurang atau tidak!" saya bentak dia.

Dan memang betul ini penipu, dengan modus yang halus bisa menggiring kita agar kita menghubunginya di ATM. Saat itulah kita akan dipandu dengan mengikuti perintahnya lewat hape (hipnotis). Dan tanpa kita sadari, isi ATM kita akan dikuras olehnya.

Mengapa saya berani menyimpulkan hal ini?
Karena pernah diceritakan oleh Ncik salon saat memotong rambut saya sekitar 3 bulan yang lalu. Saat dia menjual rumahnya, hape tak pernah lepas dari tangannya. Dan Rp. 500.000,- melayang ke rekening penipu.

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, Engkau memberikan perlindungan kepada hamba dari kejahatan manusia.

Dan kemarin saya terima sms serupa, tapi maaaaaf ya,untukmu penipu. Saya tak mau tertipu untuk kedua kalinya. Smsnya kurang lebih bunyinya seperti ini :
"Ass, kemarin sy sdh survei rumah dan tanah yg ditawarkan.sy hubungi tp tdk bisa tembus,utk nego hubungi suami sy Pak H. Handoko no 085796339***"

Kita harus waspada dan hati-hati atas segala bentuk kejahatan yang semakin banyak cara. Jangan lupa sertakan Allah selalu, dzikir dalam hati.

Tgr, 30 Maret 2014

Sabtu, 29 Maret 2014

Kamus Berjalan

Catatan ODOK hari ini :

Kemanapun tak ketinggalan, lebih ingat yang satu ini dibanding dengan yang lain. Termasuk saat pengajianpun tak pernah tertinggal karena sangat berguna. Kucatat apa yang perlu, semua catatan penting sering kumasukkan disini, kecuali catatan hutang he he he. Ada ide yang tiba-tiba nyelinap bisa langsung kutulis. Bagaikan kamus berjalan, saat kubutuhkan tinggal membukanya.


Banyak catatan yang ada didalamnya salahsatunya doa-doa, diantaranya :

1. Doa ketika menghadapi kesedihan, kelemahan, kemalasan, takut, kikir, banyak hutang dan penindasan

"Allahumma inni a'udzu bika minal hammi wal hazani wa a'uudzu bika minal 'ajzi, wal kasali wa a'uudzubika minal jubni wal bukhli wa a'uudzu bika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal"
Artinya :
Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain

2. Doa mendapatkan keturunan yang baik (Doa Nabi Ibrahim)

"Rabbij'alnii muqiimashshalaati wa mindzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du'aa'i" (QS. Ibrahim 14:40)
Artinya :
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Saat acara ceramah pengajian pagi di televisi, catatan yang indah ini kutulis namun sayang, lupa menuliskan siapa sumbernya. Semoga pahala yang banyak untuknya. Siapapun yang tahu tolong infokan padaku ya.
Catatan itu : 
* Ilmu adalah huruf yang tidak pernah terungkap kecuali dengan perbuatan.
* Perbuatan adalah huruf yang tidak pernah terungkap kecuali dengan keikhlasan
* Keikhlasan adalah huruf yang tidak pernah terungkap kecuali dengan kesabaran
* Kesabaran adalah huruf yang tidak pernah terungkap kecuali dengan kepasrahan/tawakal


Ya hape kini tak hanya sebagai sarana untuk menyimpan nomor atau telephone saja, dan masih segudang manfaat lain. Bisa membantu kita menyimpan data yang kita butuhkan. Entah copy paste atau kita tuliskan sendiri. Gunakan secara maximal hape yang kita punya untuk hal yang manfaat.

Menjelang malam, 29 Maret 2014




Selasa, 25 Maret 2014

ODOK, ODOJ Kapan ODOA?


Awal mulanya kubuat blog ini terinspirasi oleh kalimat seorang penulis muda asal Surabaya Ahmad Rifai Rifan dalam bukunya "From Kuper To Super". Menulislah yang ikhlas, agar ilmumu terwaris, agar matimu tak membawa tangis, agar masa depanmu tak miris, karena kisah hidupmu berjalan manis. Kalimat itu seperti air, yang menyiram saya untuk segera terbangun dari tidur yang panjang.

Dan postingan dari group KBM (Komunitas Bisa Menulis) untuk  ODOK (One Day One Karya), saya menterjemahkan karya disini adalah tulisan. Alhamdulillah, tulisan di blog ini, hanya sebatas coretan kecil, walaupun ada hari yang lewat tanpa tulisan. Kubalas besoknya dengan dua tulisan.

Kuterima ajakan untuk saudaraku ODOJ (One Day One Juz), karena ini belum pernah kulakukan. Ragu apakah aku bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu, jujur satu hari satu juz, sangat terasa berat karena tak pernah sekalipun dilakukan. Kuncinya harus harus yakin pada diri dan segera lakukan jangan ditunda. Awalnya mungkin seperti dipaksa, namun berjalannya waktu menjadi kebiasaan.

Terinspirasi dari Mas Agung pribadidua, pilihlah pekerjaan yang sulit. Ada ajakan seorang teman untuk ODOA (One Day One Ayat), ini yang masih menjadi pekerjaan rumahku. Semoga bisa, No Exuse untuk ODOA.

Jakarta, 26 Maret 2014
  

  

Andai Kau Dengar Nasehatku


Dalam kamar masih kubaca buku Sakinah Bersamamu karya Asma Nadia,dkk.  Mata Yang Sederhana, judul halaman 20, Herman bosan dengan kehidupan rumah tangga selama 15 tahun, karena penampilan istrinya yang tidak berubah. Ingin seperti istri yang lain, penampilan modis, harum, selalu menarik, yang tidak hanya tampil dengan daster yang lusuh. Saat ajakan temannya untuk mencoba sesuatu yang baru, dia ikuti. 
Dan bacaanku terhenti, saat anak lelakiku masuk kamar.

“Bu, maafkan aku”.

“Kenapa minta maaf, Mas?’’ sahutku. Kututup buku Sakinah Bersamamu.

“Hpku. hilang” pasang muka memelas

“Hilang, dimana?, Alhamdulillah”

“Hilang dijalan dimasukkan jaket, kok malah alhamdulillah, Bu?”

“Kalau dibilangin ibu nggak percaya, jangan masukkan jaket!, apalagi naik motor”

“Ya, Alhamdulilah karena kalau disms ibu atau ayah, jarang balas. Entah apalagi  sms yang ada dalam hapemu, yang ibu tak ketahui”

“Ya kan lagi main basket bu, mana bisa balas atau angkat teleponnya”

“Dan maaf, Mas sudah tidak usah beli hape lagi ya, karena sudah 2 hape rusak dan sekarang hilang” tegasku.

Semoga apa yang terjadi, engkau bisa mengambil banyak hikmahnya. Ada rasa kecewa, tapi kutarik benang panjang. Pasti jalan yang terbaik, dari Allah untuknya. Terimakasih Ya Allah atas hilangnya hape ini.

Untukmu, anakku :
1. Jangan mengabaikan nasehat orangtua.
2. Ridho Allah bersama dengan ridho orangtua.

Untukmu yang penasaran lanjutan buku yang kubaca, silahkan membeli di Toko buku Asmanadia

Tangerang, 25 Maret 2014






Sabtu, 22 Maret 2014

Cerita untuk anakku (Part 2)


Akupun langsung masuk Sekolah Dasar ,saat itu umurku 5 tahun. Aku jadi anak bawang, masih ikut-ikutan saja, belum resmi masuk sekolah karena belum cukup umur.  Saat Kelas 1 SD ibuku yang mengajar, dari ketiga anaknya hanya aku yang diajar oleh ibu disekolah formal.

Saat jam istirahat aku bermain "perosotan" di TK sampai lupa waktu (tidak mendengar bel masuk). Jarak antara sekolahku dan TK kurang lebih 200meter, waktu itu bel masih menggunakan besi yang dipukul. Saat ibu masuk untuk memulai pelajaran, aku belum ada dikelas, beliau meminta teman-teman untuk mencari. Ada yang mencari ke rumah, sungai, masjid dan hasilnya nihil. Sampai akhirnya aku puas bermain perosotan dan balik lagi ke SD.

"Darimana kamu, Nak?".

“Habis main di TK, Bu”, jawabku tanpa rasa bersalah. 

Walaupun statusku sebagai murid masih ikut-ikutan aku tetap dihukum oleh ibu. Berdiri dengan satu kaki diangkat, didepan kelas sampai jam pelajaran sekolah selesai. Ya, Ibu memang tidak pernah pandang bulu, mau anak sendiri kalau salah tetap dihukum ( itulah salah satu pelajaran mulia yang kuambil dari ibu ).

Alhamdulillah 2 tahun setelah adik perempuan keduaku lahir, bapak mendapatkan pekerjaan tetap. Diangkat menjadi pegawai negeri sipil di Kantor Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) kecamatan. Sekarang sudah berubah menjadi kantor Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora).

Berapa gaji PNS saat itu, tidak lebih untuk hidup 15 hari, untungnya bapak ibu kreatif dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Beras jatah yang dulu rata-rata PNS tidak mau makan, oleh bapak dibeli selanjutnya dijual ke warga. 4 sampai 5 karung goni berisi beras diangkut dengan becak ke rumah, ditimbang lagi oleh bapak menjadi bungkusan beras 1-5kg. Alhamdulillah beras itu selalu habis dibeli tetangga.

Bapak selalu dapat job serabutan, saat itu lagi demam TV dengan memakai antene UHF. Berhubung belum banyak yang bisa memasang dan memprogramnya, akhirnya bapak sering dapat job ini. Bapak juga jualan bibit ikan lele bersama temannya, malam hari saat kami terlelap tidur, beliau berangkat ke Banjarnegara ( + 4 jam perjalanan dengan bus). Siang hari bapak sudah pulang dengan membawa 2 jerigen berisi bibit lele. Saat genteng Sokka sedang trend, bapak juga mau pergi ke Sokka, Kebumen untuk membelikan genteng apabila ada teman atau tetangga yang membutuhkan. Bapakku pekerja keras, pejuang keluarga. Semoga aku juga bisa mencontohnya. Aamiin


*****
Waktu terus berjalan, saat aku naik kelas 5 dan adik keduaku berumur 1 th. Alhamdulillah orangtuaku berhasil membuat "ISTANA" untuk kami, meskipun saat itu belum sempurna masih tembok bata terpasang dan lantai tanah, yang penting tidak kehujanan dan kepanasan. Aku bangga dengan perjuangan mereka. Selamat tinggal rumah dinas, kau tetap tak kulupakan karena disana banyak menyimpan kenangan masa kecil yang begitu indah.

Akupun terpaksa pindah sekolah. Disekolah baru ini sudah tidak diajar oleh ibuku lagi. Kelas 6 SD lagi-lagi kenakalanku muncul, saat itu guru kelas sedang berhalangan mengajar karena ada keperluan di luar. Kami disuruh mengerjakan tugas, selesai mengerjakan tugas aku ingin buang air kecil ke kamar mandi.

Saat aku mau membuka pintu kamar mandi tiba-tiba, buk... sikat cucian baju jatuh dari atas pintu, hampir saja mengenaiku. Ini pasti ada temen yang usil  dan ada dikamar mandi satunya, pikirku. Lalu kukunci saja pintu itu dari luar. Tidak lama kemudian, ada suara tangisan dari dalam kamar mandi. Dua orang anak perempuan, didalamnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata yang  di dalam kamar mandi itu, Santi,  tetangga depan rumah. Akupun minta maaf, tapi dia terus menangis. Teman yang terkunci satunya kusebut Yani namanya.

Tidak disangka orangtua Santi datang ke kelas, yang profesinya juga sebagai guru. Awalnya datang hanya untuk ikut KKG (Kelompok Kegiatan Guru) yang dilaksanakan setiap hari Sabtu. Karena SD kami berdekatan dengan kantor DEPDIKBUD kecamatan tempat berlangsungnya KKG. Beliau sangat marah mendengar anaknya menangis, karena dikunci dalam kamar mandi.

Bersambung 

Cerita Untuk Anakku (Part 1)

        Di kota kelahiran ibu dan bapak inilah aku dilahirkan, tepatnya di Purworejo, Jawa Tengah. Kota kecil di selatan Jawa Tengah ini disebut Kota Pensiunan. Entah mengapa disebut Kota Pensiunan. Kalau menurutku karena banyak yang orang asli Purworejo bila mereka merantau sudah pensiun, akan kembali tinggal di Purworejo. Selain itu tak ada mall, tempatnya adem dan ayem. Haa haa sedikit dipaksakan pendapatku. Banyak pahlawan Nasional lahir dari kota ini diantaranya Jendral Ahmad Yani, WR.Soepratman, Sarwo Edhie Wibowo dan masih banyak lagi.

        Dua hari sebelum Idul Adha, ibu yang hamil anak pertama masuk Rumah Sakit Kasih Ibu. Karena tanda-tanda melahirkan sudah terasa. Sudah 2 hari di rumah sakit bayinya tak kunjung keluar. Bapakku setia menunggu ibu di rumah sakit.

        Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, gema takbir tanda Hari Raya Idul Adha berkumandang. Bapakpun pulang ke rumah simbah untuk persiapan melaksanakan Sholat Id. Rumah simbah tak jauh dari rumah sakit, Ibu ditunggu saudara perempuannya.

       Saat bapak pulang, ibu merasakan mulas yang luar biasa. Bapakpun dipanggil kembali untuk ke rumah sakit. Tak lama bapak datang, jabang bayipun lahir. Tepat di hari Raya Idul Adha, 6 September 1984, bayi laki-laki sehat, gemuk, rambut hitam lebat, hidung mancung dan pastinya ganteng segera diadzankan oleh bapak.

      Anak pertamanya ini diberikan nama Adha Setya Nugroho. Kata ibu arti namaku, anugerah terbesar dari sebuah kesetiaan. Kesetiaan ibu dan bapak, namanya juga berpengaruh padaku. Akupun tetap setia sampai sekarang dengan istriku he he he. Nama panggilan kecilku Hoho, mungkin karena aku gendut seperti Boboho.

******

      Belum genap satu bulan, aku dibawa oleh orang tua ke Tegal. Di kota Bahari inilah ibuku tersayang bekerja sebagai abdi negara. Mendidik anak-anak penerus generasi bangsa ini, profesi yg sangat mulia menurutku, dan kubangga padanya.

      Sebelum menikah, bapak bekerja di Ibukota Negara kita tercinta, Jakarta. Setelah aku lahir, bapak tinggal bersama ibu di Tegal. Masa kecilku sangat indah, setiap hari ditemani bapak dan ibu. Sebelum tidur selalu didongengin oleh bapak sambil diisik-isik (diusap-usap) punggungku. Itu yang selalu kukangenin sampai sekarang.

      Saat itu bapak belum mendapat pekerjaan tetap, beliau orang yang tak bisa tinggal diam, maka mulailah usaha ternak burung puyuh dirumah. Giziku pasti terpenuhi, karena hampir setiap hari makan telur puyuh, untung saja tidak sampai bisulan. Oh iya kami tinggal dirumah dinas, alhamdulillah ibu dapat jatah dari pemerintah untuk menempatinya di SD inpres itu, sehingga tidak pusing dengan urusan mengontrak rumah.

      Saat aku mulai masuk sekolah Taman kanak-kanak, hanya satu hari aku bersekolah di TK alias tidak tamat. Karena dihari pertama masuk sekolah, langsung disuruh kerja bakti mencabut rumput di halaman sekolah, dan tidak mendapat bubur kacang ijo (that’s me).

“Ibu, aku pokoknya nggak mau sekolah TK lagi!”

“Kenapa Mas?”

“Karena aku habis cabutin rumput, tidak dikasih bubur kacang hijau!”

Sebelum masuk TK, aku suka bermain disana melihat anak sekolah TK setelah kerja bakti akan mendapatkan bubur kacang hijau. Aku kecewa sekali karena pada hari itu, aku dan teman-teman tidak dibagi bubur oleh bu guru. Ya sampe sekarang memang hobiku makan he he he.

Bersambung....

Dibawah Turunnya Hujan

Hari Minggu saatnya istirahat, santai, setelah Senin sampai dengan Jum'at beraktifitas. Berkutat dengan pelajaran sekolah. Si kecil banyak alasan bila harus mandi pagi.

Rayuan apapun tak mempan, kecuali bila ada rencana pergi jalan-jalan atau kemana. Itupun dia pasti akan lari kesana-sini, nonton TV dulu sebentar, buka komputer searching game. Mulut ibu sudah majupun tak dihiraukan.

"Bu, lihat mendung tuh, sebentar lagi hujan, jadi mandinya sekalian" rayunya

"Kelamaan atuh dek, kalau nungguin turun hujan baru mandi" sahutku dari dapur.

Memang diluar terlihat mendung gelap. Tak lama turun hujan.
"Asyiiiiik..., aku hujan-hujanan dulu ya bu".

Khansa langsung berlari keluar tanpa menunggu ijin dari ibunya.

"Horeeee hujaan" teriaknya

Kulihat dia tertawa gembira dengan teman sebayanya. Masa kecil yang menyenangkan, walau hanya dengan bermain hujan-hujanan. Sekali-kali kuawasi dia, kali ini dia bermain badminton dengan temannya dibawah derasnya air hujan.
Tak jarang dia lomba lari bersama teman-temannya saat turun hujan.

Pernah saat turun hujan di hari sebelumnya, dia minta sabun dan sikat serta spoon. Ternyata dia mencuci sepeda motor ayahnya yang terparkir di depan rumah. Walaupun tak bersih tapi kuacungi jempol karena dia sudah bisa membantu pekerjaan ayahnya.

Saat hujan reda, dia akan segera balik ke rumah untuk mandi.

Ku tak khawatir bila hujan-hujanan, akan masuk angin atau flu nantinya.
Hanya ingin ada yang dikenangnya saat kecil dulu bila melihat air hujan. Kalau sudah besar pasti dia akan malu berlari, bermain dibawah turunnya air hujan. Saat ini dia masih berumur 9 tahun.

Saat kecil dulu dia sangat tomboy, tapi setelah bertambah usianya dia belajar untuk memakai hijab. Walaupun belum tiap hari dilakukan, ku percaya dia akan istiqomah suatu saat nanti.


16 Maret 2014